
Jakarta (Partaipandai.id) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap penyelenggaraan Festival Film Antikorupsi (ACFFest) atau Festival Film Antikorupsi 2022 dapat menumbuhkan budaya antikorupsi di masyarakat.
“Harapannya semakin banyak pembuat film yang berpartisipasi dan juga mengedukasi penonton untuk melakukan budaya antikorupsi dengan menggunakan film ini,” kata Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron pada acara penganugerahan ACFFest 2022 di Pusat Film H. Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu malam.
Ia mengatakan pemberantasan korupsi tidak hanya masalah penindakan, tetapi juga melalui pendidikan dan partisipasi masyarakat, salah satunya melalui film.
“Membudayakan antikorupsi tidak bisa hanya satu jalur saja, pendidikan antikorupsi kita laksanakan melalui kurikulum, melalui ormas, melalui partai politik, itu sudah kita lakukan, tapi juga untuk anak muda, saya kira perlu juga. untuk mendekatinya menggunakan budaya dan film juga,” kata Ghufron.
Oleh karena itu, ia juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan ACFFest tidak hanya sebagai sarana hiburan tetapi juga edukasi bagi masyarakat.
“Jadi dari tahun ke tahun, film drama, teater tidak hanya untuk hiburan tapi juga untuk pendidikan. Oleh karena itu, KPK berharap dengan adanya ACFFest ini bagaimana menginspirasi anak muda untuk memberikan informasi edukasi dari anak muda sesuai selera masing-masing. kami berharap,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ghufron juga mengomentari beberapa film yang berkesan baginya, yakni film berjudul “Elin” yang menjadi juara kategori film dokumenter pendek.
Ia menilai kisah Elin menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi warga negara untuk berkontribusi bagi Tanah Air dan kemanusiaan.
“Bahkan sebaliknya, film Elin menunjukkan bahwa koruptor justru memiliki karakter disabilitas yang berbahaya. Saya kira menginspirasi bahwa penyandang disabilitas justru memiliki kemandirian dan juga bermanfaat bagi orang lain,” kata Ghufron.
“Di sisi lain, orang-orang sempurna seperti kita yang kemudian terjerumus dalam tindak pidana korupsi, sebenarnya tidak mandiri, bahkan merugikan banyak orang,” tambah Ghufron.
Selain itu, ia juga terkesan dengan film berjudul “Titip Sendal” yang memenangkan kategori film usulan ide cerita.
“Sandal menunjukkan bahwa ketertiban adalah kebutuhan dan kepentingan kita bersama. Di sisi lain, perilaku tidak tertib satu orang mengakibatkan kehancuran segalanya. Ini menunjukkan sekali lagi bahwa korupsi membutuhkan jalan pintas, jalan pintas itu kemudian mengakibatkan kekacauan,” ujarnya.
Ia mengatakan nilai yang bisa diambil dari film ini adalah ketertiban itu penting untuk kemaslahatan kita semua.
“Kekacauan itu kemudian akan merusak dan merugikan kita semua. Nilai-nilai itu ditampilkan, ketertiban penting untuk kemaslahatan kita semua,” kata Ghufron.
Reporter: Benardy Ferdiansyah
Editor: Didik Kusbiantoro
Redaksi Pandai 2022

