
Praktik politik uang tidak akan pernah hilang dalam pemilu di Indonesia, namun pengaruhnya semakin mengecil.
Sorong (Partaipandai.id) – Pengamat politik Ray Rangkuti menilai pengaruh politik uang akan berkurang pada Pemilu 2024, karena tingkat kecerdasan dan kesejahteraan pemilih semakin meningkat dari waktu ke waktu.
“Praktek politik uang tidak akan pernah hilang dalam pemilu di Indonesia, namun pengaruhnya semakin kecil. Survei membuktikan bahwa politisi yang memberikan uang kepada pemilih belum tentu terpilih,” kata Ray Rangkuti, di Sorong, Papua Barat Daya, Selasa.
Menurutnya, tingkat kecerdasan dan kesejahteraan pemilih kita semakin meningkat, sehingga jika hanya diberi seratus ribu pasti akan menolak. Kecuali sejumlah besar lima ratus hingga satu juta rupiah dan belum tentu calon anggota legislatif (caleg) mampu membelinya.
Selain itu, kata dia, generasi pemilih muda saat ini merupakan generasi yang memiliki karakter independen dari politik. Oleh karena itu, dalam pengawasan pemilu, Bawaslu tidak perlu lagi mengkhawatirkan pemilih tetapi fokus pada calon pemimpin dari mana sumber dana kampanye.
Dia mengatakan, fokus pengawasan politik uang bukan pemilih yang menerima uang dari caleg atau peserta pemilu, tapi darimana dana kampanye caleg.
Ia menjelaskan, hal ini penting, karena akan mempengaruhi sistem pemerintahan ketika pemimpin terpilih dibiayai oleh para pebisnis yang memiliki kepentingan tertentu.
“Dampak dari sistem pemerintahan yang sudah sangat demokratis saat ini bisa dipastikan akan mengalami kemunduran,” ujarnya.
Ia juga menyatakan bahwa sistem demokrasi Indonesia telah berkembang sangat baik dari waktu ke waktu. Bahkan sistem demokrasi Indonesia menjadi contoh bagi negara-negara demokrasi baru di dunia.
Karena itu, katanya lagi, sistem demokrasi saat ini harus dipertahankan dengan partisipasi rakyat agar tidak menjadi kemunduran karena penguasa.
Baca juga: Bawaslu Sumbar: Politik uang sering dianggap budaya dalam pemilu
Baca juga: Bawaslu memasukkan politik uang melalui “e-wallet” dalam IKP 2024
Reporter: Ernest Broning Kakisina
Editor: Budisantoso Budiman
Redaksi Pandai 2022

