Jakarta (Partaipandai.id) – Perusahaan rekaman dan distribusi musik Sony Music Entertainment Indonesia (SMEI) resmi menempati lokasi baru di lantai 2 Gedung The Veranda, CIBIS Park Business Center Jakarta Selatan, setelah sebelumnya bernaung di Wisma GKBI Tanah Abang, Jakarta Pusat. .
Pemilihan lokasi baru ini dianggap mewakili ekspresi dan semangat perusahaan yang menuntut perubahan dari setiap era dan generasi, baik bagi karyawan perusahaan, artismaupun pencipta.
Selain itu, keputusan pemindahan ruang kerja SMEI yang juga dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ini juga erat kaitannya dengan kebutuhan akan penyegaran, agar ide-ide kreatif dapat terus mengalir dengan sempurna.
“Kami membutuhkan ruang baru yang merepresentasikan orang-orang kreatif, bukan hanya pekerja. Selain itu, kami berharap tempat baru ini dapat dirasakan oleh para seniman sebagai rumah mereka,” kata Direktur Utama SMEI Muhammad Soufan kepada Partaipandai.id, Senin.
Pemilihan gedung baru, kata Soufan yang akrab disapa Muna, juga turut memberikan gaya dan semangat kerja yang lebih fleksibel atau dinamis. Ia menambahkan, SMEI sengaja memilih lokasi di lantai gedung yang tidak terlalu tinggi agar memberikan kemudahan dalam setiap aktivitas.
Baca juga: Sony Music mengakuisisi katalog musik Bob Dylan
Baca juga: TikTok bermitra dengan Sony Music untuk memperluas perpustakaan musik
“Kami TIDAK menginginkan gedung yang tinggi. Sekarang bagus, Anda masih bisa melihat pepohonan. Secara psikologis, kalau gedung yang terlalu tinggi bikin capek juga, gitu apa yang salah kerumitan, pasang surut. Dan itu sangat mempengaruhi psikologi kerja di dunia kreatif,” jelasnya.
Di lokasi baru, SMEI membuat ruang kerja sedinamis mungkin, sehingga bisa digunakan untuk segala aktivitas yang mendukung lahirnya ide-ide kreatif. Bahkan, SMEI juga memiliki studio sendiri, sesuatu yang tidak ditemukan di kantor sebelumnya.
“Mau bikin konten di sini juga bagus, tinggal pilih dari yang ada 12 hektar. Alhamdulillah ada spasi terpisah dari bangunan utama yang bisa kita gunakan sebagai studio. Pas banget,” guraunya.
Di usianya yang sudah menginjak 25 tahun, Muna mengatakan bahwa SMEI masih ingin menunjukkan eksistensinya di industri musik Tanah Air dengan menggaet berbagai genre yang bisa dicover melalui sub-label yang mereka kembangkan selama ini.
Tanpa target yang terlalu muluk, jelas Muna, SMEI juga ingin memberikan wadah bagi generasi muda saat ini untuk dapat bekerja dengan lebih nyaman.
“Sekarang adalah era produktif Generasi Z. Karena itu banyak hal yang langsung kita ubah untuk bisa menyesuaikan dengan kreativitas anak zaman sekarang. Berusaha untuk tidak menjauhkan diri dari pekerja atau artis Generasi Z, agar hubungan mereka seperti teman, sementara masih ada tingkatannya agar tidak kelewatan,” ucapnya.
SMEI, jelas Muna, berusaha mempelajari apa yang dibutuhkan artis-artis Generasi Z yang tercermin dari cara mereka mengaransemen atau mengaransemen lagu, serta lirik.
“Yang unik dari Gen Z adalah generasi depresi. Hal ini dapat diwakili, mewakili perasaan mereka. Mereka membuat lirik tentang hal-hal yang ‘berdarah’ dan pasar menerima hal semacam itu. Kalau notasinya cocok, tinggal poles dalam bahasa Inggris,” ujarnya.
Muna juga menjelaskan pentingnya kenyamanan, tidak hanya dalam kaitannya dengan bisnis kerja, tetapi juga hubungan interpersonal untuk dapat merangkul generasi saat ini dalam menghasilkan karya yang baik.
“Kami tidak memposisikan artis sebagai aset, tetapi sebagai mitra. Ini adalah mutualisme. Mereka menggunakan kekuatan kita untuk menjual lagu atau karya, sedangkan kita mengeksploitasi bahan artis yang kemudian dibagi dua. Kalau pemahamannya sama, ya seperti berteman,” pungkas Muna.
Baca juga: Hekrafnas bisa menjadi ruang kolaborasi untuk membangun ekosistem kreatif
Baca juga: Menparekraf: subsektor musik menyumbang hampir Rp 6 triliun
Baca juga: Sony Music menjual merchandise Beatles di Amerika Utara
Reporter: Ahmad Faishal Adnan
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
HAK CIPTA © Partaipandai.id 2023

