
memuat…
Mikael Gobai, peraih beasiswa ADik yang ingin menjadi guru di Papua. foto/halaman Puslapdik.
Mikael merasa sedih sekaligus bersyukur bisa melanjutkan kuliah di Pulau Jawa sampai lulus Beasiswa Afirmasi Perguruan Tinggi (ADik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kesedihannya dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa keberhasilannya menuntut ilmu di Jawa tidak dapat disaksikan oleh kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia.
Cita-cita mendiang ayahnya adalah kuliah di Pulau Jawa
Ibunya meninggal saat Mikael masih kelas 2 SD, sedangkan ayahnya meninggal saat mendekati kelulusan SMA tahun 2022. Padahal, saat masih hidup, ayahnya yang menginginkan Mikael bersekolah di Jawa.
Baca juga: Cerita Etika dan Kesukaan, 2 Siswa Madrasah Raih Beasiswa BIM Lolos 8 Kampus Luar Negeri
“Kata-kata yang sering saya tanyakan kepada ayah saya sebelum ayah saya meninggal adalah: Ayah, saya akan kuliah di mana nanti? lalu ayah saya menjawab “harus di Jawa”, katanya dikutip dari situs Puslapdik Kemendikbudristek, Kamis (11/5/2023).
Tekad ayahnya itu salah satunya dengan menyekolahkan Mikael ke SMA YPPK Adhi Luhur di Kabupaten Nabire yang kini menjadi ibu kota Provinsi Papua Tengah.
Dengan Beasiswa ADik Kuliah di Universitas Muhammadiyah Magelang
Mikael juga bersyukur mendapat beasiswa ADik karena bisa meringankan beban kakaknya.
“Sejak ayah saya meninggal, mau tidak mau, kakak saya yang harus menghidupi saya dan adik saya dan ada beberapa kakak saya yang belum selesai kuliah. Dengan beasiswa Adik ini, beban kakak saya adalah dikurangi,” lanjutnya.
Diakui Mikael, saat mendaftar ADik pilihan program studi utamanya adalah Kesehatan Masyarakat, namun nyatanya Mikael diterima di Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Magelang.
“Demi meringankan beban keluarga saya, saya mau dan tidak harus mengikuti beasiswa ADik walaupun tidak sesuai dengan pilihan saya, saya yakin kehendak Tuhan untuk saya ada di sini, maka saya lanjutkan syukuri dan ikuti semua proses ini,” ujarnya.
Perjuangan Mikael Beradaptasi Semasa Kuliah
Sebagai orang Papua yang pertama kali pergi ke Jawa, Mikael mengaku sangat sulit menyesuaikan diri dengan budaya dan makanan di Magelang. Belum lagi kendala bahasa, salah satunya saat perkuliahan dosen sering menjelaskan materi perkuliahan dalam bahasa Jawa.
Kendala lain, Mikael yang beragama Katolik selama kuliah di Universitas Muhammadiyah yang sangat kental dengan budaya Islam dan ritual keagamaan.
Menghadapi berbagai kendala tersebut, maka Mikael terus menyadarkan diri akan tujuan utama pergi ke Magelang. Dengan kesadaran itu, Mikael terus berusaha membiasakan diri dan akhirnya terbiasa.

