Guru dan pendidik agama harus digital

Jakarta (Partaipandai.id) – Asosiasi guru menilai orang-orang yang terlibat dalam transfer pengetahuan, termasuk guru digital dan penyuluh, perlu memiliki keterampilan digital.

“Tidak kalah penting, mereka juga harus mau menggunakan media sosial untuk mendukung proses pembelajaran yang kreatif dan menarik,” kata Fajar Tri Laksono, anggota Ikatan Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi, Ikatan Guru Indonesia dan Humas Humas PGRI, Fajar Tri Laksono.

Baca juga: Pemerintah adakan pelatihan literasi digital untuk pesantren

Himbauan tersebut ia sampaikan pada webinar “Pemanfaatan Media Sosial Bagi Penyuluh Agama”, program literasi digital Kementerian Komunikasi dan Informatika, bagi masyarakat di Bali dan Nusa Tenggara.

Pandemi virus corona yang terjadi dalam dua tahun terakhir membawa berkah sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan bergeser dari tatap muka ke online (on line).

Perubahan ini menuntut sekolah, guru, dan siswa untuk menguasai keterampilan digital.

“Virus corona (pandemi) telah mengubah wajah pendidikan di Indonesia. Penguasaan keterampilan digital oleh pemangku kepentingan pendidikan (guru, siswa, sekolah) adalah sebuah keniscayaan,” kata Fajar.

Menurut Fajar, keterampilan digital merupakan keharusan bagi guru dan penyuluh agama. Idealnya, mereka harus memiliki kemampuan merancang pembelajaran yang kreatif, mengelola model dan variasi pembelajaran, membuat media pembelajaran yang menarik dan mampu mengelola sumber belajar.

Baca juga: Kemajuan digitalisasi harus dibarengi dengan etika digital

Mahasiswa juga perlu memiliki keterampilan digital, seperti dapat menggunakan perangkat IT, mengenal software atau aplikasi pendukung, terampil menggunakan mesin pencari.mesin pencari)mengenali aplikasi percakapan dan dapat memilih dan mengurutkan informasi.

Dari sisi etika digital, pendiri Open Source Community Foundation, Arief, Rama Syarif, di webinar Sementara itu, disinggung masih banyak pengguna platform digital yang bertindak tidak etis, salah satunya dengan ikut menyebarkan hoax.

Etiket digital lainnya adalah tidak menggunakan software bajakan, ini merupakan bentuk perilaku jujur.

webinar “Pemanfaatan Media Sosial untuk Penyuluh Agama” merupakan bagian dari kampanye “Makin Cakap Digital 2022” yang digalakkan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Cybercreation, melalui program Gerakan Nasional Literasi Digital.

Baca juga: Kemajuan di dunia digital menyelamatkan usaha kecil selama pandemi

Kampanye ini dijadwalkan berlangsung hingga awal Desember, dan diharapkan dapat memberikan arahan kepada masyarakat dalam melakukan aktivitas digital.

Kegiatan literasi digital seperti ini digelar di 514 kabupaten di 34 provinsi. Pembahasan materi dalam kegiatan literasi digital ini dipilih sejalan dengan empat pilar utama yaitu digital skills, digital ethics, digital security dan digital culture.

Sejak dilaksanakan pada tahun 2017, Gerakan Nasional Literasi Digital telah mencapai 12,6 juta orang. Pada 2022, Kominfo menargetkan 5,5 juta peserta pelatihan literasi digital.

Baca juga: Startup Pluang: inklusi keuangan digital mendukung pertumbuhan ekonomi

Baca juga: Cakap Digital dan upaya peningkatan literasi digital

Baca juga: Menkominfo menekankan pentingnya literasi dan keterampilan digital

Reporter: Natisha Andarningtyas
Redaktur : Suryanto
Redaksi Pandai 2022

Sumber

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *