Ari Dwipayana mengajak masyarakat memperkuat moderasi beragama melalui seni

karena seni bersifat membuka ruang toleransi untuk membangun kebersamaan

Jakarta (Partaipandai.id) – Koordinator Staf Khusus Presiden Republik Indonesia AAGN Ari Dwipayana mengajak masyarakat untuk terus memperkuat moderasi beragama melalui seni dan budaya.

“Seni dan budaya dapat menjadi jembatan di tengah keberagaman dan perbedaan, karena seni memiliki karakter membuka ruang toleransi untuk membangun kebersamaan dan kerukunan,” kata Ari dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.

Hal itu disampaikan Ari Dwipayana saat menghadiri Seminar Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Seni Religius yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Hindu Kementerian Agama di Yogyakarta, Minggu.

Ari menilai seniman memiliki peran personal sekaligus peran kolektif dalam setiap atraksi seni. Setiap pelaku yang melakukan karya bersama harus bertoleransi dan berkolaborasi sehingga tercipta karya seni yang indah.

Misalnya, tambahnya, dalam sebuah paduan suara, setiap vokalis memiliki karakter suaranya masing-masing, yakni soprano, alto, tenor, dan bass. Namun, kata dia, ketika jenis suara dipadukan, maka masing-masing penyanyi dalam paduan suara harus mampu menekan ego untuk menciptakan keharmonisan.

“Dengan begitu moderasi beragama, toleransi, saling menghargai, dan gotong royong menjadi landasan terciptanya kerukunan masyarakat,” jelasnya.

Baca juga: Ari Dwipayana mengatakan perlu ada tindakan afirmatif untuk melindungi sastra Jawa kuno

Ia juga mengatakan bahwa Candi Prambanan merupakan simbol paling nyata dari aktualisasi moderasi beragama, seperti yang dicontohkan oleh nenek moyang kita di masa lalu.

Hal ini terlihat dari keberadaan Candi Siwa yang berdampingan dengan Candi Brahma dan Candi Wisnu. Candi Prambanan yang merupakan peninggalan Hindu juga berdampingan dengan Candi Sewu, Candi Bubrah, dan Lumbung. Klenteng yang bercorak Buddha,” katanya.

Keharmonisan ini kemudian dicatat dan ditulis oleh Mpu Tantular dalam kitab Kakawin Sutasoma, khususnya melalui Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu, Ari juga mengingatkan bahwa nenek moyang kita telah memadukan kegiatan keagamaan dengan kesenian.

Hal itu terlihat jelas pada panel relief tari Siwa Tandawa dan berbagai jenis alat musik yang terpahat di candi Prambanan, kata Ari Dwipayana.

Lokakarya tersebut dihadiri oleh Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Al-Makin, Ulama Ulil Absar Abdala, Guru Besar Persatuan Bangsa Indonesia Institut Seni Rupa (ISI) Surakarta Nanik Sri Prihatin.

Baca juga: Pesan Natal Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengajak warga Biak untuk menjaga toleransi
Baca juga: FKUB: Desa perlu mengedepankan kerukunan pembangunan

Pemberita: Putu Indah Savitri
Editor: Fransiska Ninditya
Redaksi Pandai 2022

Sumber

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *