memuat…
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melanda Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, saat warga sedang melaksanakan salat Idul Adha. Foto/iNews TV/Sigit Dzakwan Pamungkas
upaya pemadaman Kebakaran hutan dan lahan akhirnya dibantu oleh helikopter yang meluncurkan bom air dari udara. Helikopter yang terbang dari Kota Palangkaraya harus bolak-balik membombardirnya dengan air, karena banyaknya titik Kebakaran hutan dan lahan.
Daerah Kebakaran hutan dan lahan, diperkirakan sekitar 28 hektar berada di kawasan Dusun Karanganyar, Desa Mendawi, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat. Lokasi Kebakaran hutan dan lahan berada di rawa, sehingga mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk ke area yang terbakar.
Kepala BPBD Kabupaten Kotawaringin Barat, Syahruni mengatakan, areal yang terbakar merupakan rawa yang sangat dalam sehingga tidak bisa ditembus mobil pemadam kebakaran. “Kami bersyukur ada bantuan helikopter dari BNPB, sehingga di beberapa titik Kebakaran hutan dan lahan padam,” ujarnya.
Ia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena jika itu terjadi Kebakaran hutan dan lahan dampaknya sangat luas. “Jika itu terjadi Kebakaran hutan dan lahan dampaknya sangat luas, termasuk pada kesehatan dan transportasi,” ujar Syahruni.

pemadaman listrik Kebakaran hutan dan lahan dilakukan oleh tim gabungan, dari BPBD, Manggala Adni, Balakar Huma Singgah Itah Mendawi, Balakar Manggala Yudha KBB, TNI, Polri, dan relawan. Kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di areal perkebunan sawit milik warga Desa Kumpai Batu Bawah, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Sebelumnya, dalam sepekan terakhir, karhutla juga melanda 60 hektare lahan gambut di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. Sulitnya medan, dan terbatasnya akses air membuat proses pemadaman listrik menjadi sulit Kebakaran hutan dan lahan sering terkendala.
Dari data Gugus Tugas Kebakaran hutan dan lahan, di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat terdapat sebanyak 50 titik api. “Untuk alasan Kebakaran hutan dan lahan, Kami belum berani berspekulasi, nanti polisi yang menyelidiki,” pungkas Syahruni.
(ya)

