
Memuat…
Ivan Simatupang. Foto/repro
Manikebu dengan Humanisme Universal di satu kutub dan Lekra yang mengusung Realisme Sosialis di kutub lainnya. Dua institusi budaya pada masa Orde Lama yang tercabik-cabik, saling sikut.
Iwan Simatupang tak pernah gentar dengan ancaman Lekra: tahun pemberantasan. Dalam surat politiknya 1964-1966 kepada B Soelarto, seorang penulis dari Yogya, Iwan menegaskan dirinya sebagai seorang nasionalis.
“Kamu tahu, saya seorang nasionalis, mantan pejuang (Panglima TRIP Sumut), anti kapitalis, anti sosialisme kanan-kanan, tetapi sebaliknya: tegas terhadap setiap paham, doktrin, ideologi, yang (mencoba untuk ) merusak integritas kebesaran manusia! .”
Baca juga: Calon Arang, Wanita Penyihir yang Dibasmi Mpu Baradah Utusan Raja Airlangga
Iwan Simatupang seorang pembaharu sastra Indonesia. Kelahiran Ziarah, Rednya Merah, Kering, Kooong, dan kumpulan cerpen Tegak Lurus Langit, tiba-tiba tersentak. Dia menyebut karyanya novel masa depan.
Kisah-kisah yang diciptakan Iwan Simatupang tidak memberi ruang bagi pahlawan. Tidak bertema dan tidak peduli tentang moral. Tokoh utamanya selalu laki-laki.
Karakter selalu tanpa identifikasi atau nama pribadi, kecuali sebutan profesional atau alias. Iwan Simatupang juga lebih menyukai ungkapan “pahlawan kita”. Ada karakter kita dalam cerita Ziarah. Begitu juga dalam kisah Merahnya Merah dan lainnya.
Karya Iwan Simatupang dianggap janggal dan menuai pujian sekaligus kritik. Mungkin semua itu dipengaruhi oleh filosofi eksistensialisme dan fenomenologi yang dianutnya.
“Penulis ini secara kontroversial mengguncang dunia sastra Indonesia modern menjelang akhir 1960-an dengan novel-novelnya,” tulis Kurnia Jr. dalam buku “Inspirasi? Omong kosong!, Novel karya Iwan Simatupang”.

