
Jakarta (Partaipandai.id) –
Munculnya tren penjualan on line saat ini bukanlah batu loncatan yang cukup menjanjikan bagi sebagian trader. Seperti penjualan batik Maulana yang diakuinya mengalami penurunan meski sering dilakukan hidup di aplikasi TikTok.
“Sekarang maksimal satu bulan 20-25 Periksadulu minimal 40, paling 230 sekali hidup,” ujarnya saat ditemui di toko batik miliknya di Thamrin City, Jakarta.
Ia mengatakan, penurunan pembeli melalui akun TikTok terjadi karena status Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dihapus sehingga masyarakat kembali datang ke toko, atau memesan melalui WhatsApp bagi pelanggan yang sudah menjadi pelanggan.
Penghasilan dari hidup di TikTok, menurutnya bisa meraup untung besar. Sekali pun hidupdia pernah mengundang 1,5 juta penonton dan menjadi sedang tren di aplikasi TikTok.
“Mengerti dapat Rp 30 juta, sekarang Lihat Rp. 5 juta saja sangat lelah,” dia berkata.
Namun belakangan ini, penonton langsung TikTok, lanjutnya, hanya mencapai 1.000 hingga 3.000. Dan selama sebulan terakhir hanya 20 hingga 25 pelanggan yang memesan.
Baca juga: Kementerian Komunikasi dan Informatika membantu UMKM dalam mengadopsi teknologi digital
“Terbaik sebenarnya luringorang datang untuk melihat kualitas barang, jika on line digambar, difoto dengan efek kamera, efek pencahayaan kan? angkatan laut katanya hitam,” kata Maulana.
Maulana mengaku ditawari reward iklan di TikTok untuk menambah penonton, namun harganya cukup mahal, sehingga ia memilih mencoba sendiri sambil berjualan. hidup setiap hari dengan jadwal pagi dan sore.
Hal senada juga diakui Deby Sinta, pemilik toko perlengkapan bayi di ITC Fatmawati yang mencoba peruntungan berjualan. on line karena rutinitas pelanggan yang datang ke toko terhenti total sejak pandemi.
“Dalam diriku luring pendapatan masih oke on line pas pas pandemi baru mulai, mungkin ratingnya belum tinggi jadi pesanannya belum banyak,” ucapnya.
Dia mengatakan, pelanggan masih sering membandingkan harga di toko offline dan online. Menurutnya, banyak pelanggan yang datang langsung ke toko tidak mempermasalahkan harga yang ditawarkan meski ada layanan online yang lebih murah.
“Lebih mudah menjualnya luring jika itu aku, bukankah begitu obrolan jadi pelanggan juga tahu apa yang harus dibeli, jika on line Baru beli pakai foto, tiba-tiba barang tidak sesuai imajinasi, nanti kita kasih bintang satu,” kata Sinta.
Selain menggunakan perdagangan elektronik seperti Tokopedia dan media sosial Instagram, Facebook dan TikTok, ia juga melayani pemesanan via WhatsApp untuk pelanggan lama yang sering berbelanja di tokonya.
Baca juga: Presiden Jokowi mengajak UMKM menggunakan aplikasi online untuk mendongkrak omzet
Baca juga: Platform lokal adalah favorit bagi pedagang online
Baca juga: Empat tips untuk UMKM yang ingin “go digital”
Reporter: Fitra Ashari
Editor: Satyagraha
HAK CIPTA © Partaipandai.id 2023

