
Secara umum hal ini menyinggung perasaan umat Islam karena sudah menjadi budaya.
Jakarta (Partaipandai.id) – Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Kiai Said Aqil Siradj menyinggung larangan pemerintah berbuka puasa bersama karena dinilai menimbulkan kegaduhan dan ketidakpercayaan di masyarakat.
“Secara umum, ini menyinggung perasaan umat Islam karena sudah menjadi budaya,” kata Said dalam acara tersebut Tadarus Kebangsaan dan Peta Jalan Penyusunan Kepemimpinan Muslim Indonesia di Jakarta, Sabtu.
Menurut Said, sikap pemerintah tersebut merupakan bentuk intervensi yang berlebihan dalam ranah kehidupan beragama yang selama ini menjadi ranah para pemuka agama dan ormas keagamaan.
Namun, lanjutnya, hal itu coba diambil alih, coba dipaksakan melalui intervensi kebijakan yang cenderung cukup represif psikologis bagi rakyat.
Meski pemerintah telah menjelaskan aturan tersebut, Said menilai hal itu akan menimbulkan kegaduhan. Padahal, lama kelamaan akan melahirkan ketidakpercayaan (ketidakpercayaan) orang jika Anda membiarkannya terus terjadi.
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengkritisi pemerintah sebelum mengeluarkan kebijakan atau larangan menimbang baik buruknya bagi masyarakat luas sehingga muncul hikmah dalam sebuah regulasi yang dikeluarkan.
Menurutnya, boleh saja pemerintah melakukan imbauan, misalnya tidak menggunakan anggaran pemerintah saat buka puasa bersama.
“Buka puasa bareng itu dimana-mana, di Masjidil Haram, Mekkah buka puasa bareng. Amir, keluarga dari keluarga kerajaan buka puasa itu biasa. Maknanya hanya kebaikan agar tidak mubazir, tinggal itu saja yang ditekankan, jangan dilarang buka puasa bersama,” ujar Said.
Baca juga: Pengamat: Pelarangan buka puasa bersama mendukung transisi menuju endemik
Baca juga: Ketua MPR meminta Menpan RB menginstruksikan ASN untuk mematuhi surat edaran presiden tersebut
Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD mengatakan bahwa pernyataan Said tersebut merupakan bagian dari demokrasi dan penilaian masyarakat.
“Ya tidak apa-apa, itu demokrasi, harus ada penilaian dari masyarakat,” kata Mahfud.
Mahfud sendiri merasa peraturan itu juga berpengaruh pada dirinya yang sebenarnya sudah menyiapkan beberapa kali buka puasa. Namun, dengan aturan tersebut, mereka terpaksa berbuka puasa bersama hanya dengan istrinya.
Terkait kebijakan ini sebagai sikap over intervensi pemerintah, Mahfud berpandangan positif bahwa hal tersebut merupakan bagian dari kritik membangun yang disampaikan masyarakat.
“Ya nggak apa-apa, terima kasih, sebagai pengkritik pasti ada, itu namanya demokrasi, namanya umat Islam merasa milik Indonesia ini,” kata Mahfud.
Tadarus nasional ini diikuti oleh 14 ormas Islam anggota LPOI. Hadir sebagai keynote speaker Menko Polhukam Mahfud MD dan Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Kiai Said Aqil Siradj.
Selain Mahfud MD, pembicara lainnya adalah Aster Panglima TNI Mayjen TNI Masduni, Kabarhakam Komjen Pol. Arief Sulistyo, Direktur Jamintel B Ricardo Simajuntak, Kepala BNPT Komjen Pol. Boy Rafly Amar, dan lainnya.
Baca juga: Mendagri meminta para kepala daerah tidak berbuka puasa bersama
Baca juga: Menag: Larangan bukber tidak mencerminkan pemerintahan yang anti Islam
Reporter: Laily Rahmawaty
Editor: D.Dj. Kliwantoro
HAK CIPTA © Partaipandai.id 2023

