Pengamat: Isi pidato Megawati tidak mengerdilkan posisi Presiden Jokowi

Surabaya (Partaipandai.id) – Pengamat politik Universitas Airlangga Surabaya, Haryadi, mengatakan pidato Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri pada peringatan 50 tahun partai tersebut tidak mengecilkan posisi Presiden Joko Widodo.

“Perlu dipahami bahwa acara tersebut dimaksudkan sebagai hajatan di lingkungan keluarga besar dan masyarakat biasa. Karena sejak awal dirancang sebagai acara internal partai,” kata Haryadi dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Jumat.

Menurutnya, yang paling banyak diundang hadir adalah kalangan akar rumput, yakni pengurus cabang partai dan Satgas Cakra Buana. Karena itu, pimpinan parpol lain yang berada di level elit tidak diundang. Tidak semua jajaran menteri di kabinet Presiden Joko Widodo diundang. “Seperti halnya dalam sebuah keluarga, Anda bisa lebih terbuka dalam berbicara. Pesan sebagai keluarga besar adalah ciri khas Bu Mega untuk dibangun secara internal. pasar politik dan militansi kader. PDIP merupakan salah satu pihak yang memiliki identitas politik atau identitas politik terkuat. Ini berkat kekuatan mesin politik internal yang dibangun Bu Mega selama ini,” ujarnya.

Cara berpolitik ini terbukti membuahkan hasil. Haryadi menjelaskan faktor-faktor yang membuat PDIP sukses di Pemilu 1999. Kemudian, pada Pemilu 2004 dan 2009, PDIP gagal bahkan terlempar dari kekuasaan. Berikutnya lagi, pada Pemilu 2014 dan 2019, PDIP kembali berkuasa.

Baca juga: Megawati tak mau tergoda mengumumkan nama calon presiden di HUT PDIP

Baca juga: Megawati mengingatkan kadernya untuk terus turun

Kemenangan dalam pemilihan legislatif dan presiden tahun 2014 dan 2019 merupakan rekor baru dalam politik elektoral di Indonesia. Faktor penentu kemenangan dua kali berturut-turut karena PDIP beruntung memiliki dua angka panutan sekaligus, yaitu Megawati dan Jokowi. “Kekuatan kedua tokoh ini menjadi perekat identitas partai yang sangat kuat. Ia juga menjadi penentu kemenangan PDI Perjuangan secara berturut-turut. Namun, potensi kekuatan mereka melemah secara kelembagaan dengan penerapan sistem pemilihan proporsional terbuka,” kata Haryadi.

Nah, sebenarnya kalau kita telaah lebih dalam, sebenarnya bukti-bukti di atas menegaskan betapa pentingnya posisi Jokowi sudut pandang Megawati sebagai Ketua Umum PDIP, tanpa melupakan kejelian Mega sebagai lpembuat pembaca dsebuahn jiwanya sebagai negarawan. “Bu Mega menempatkan Presiden Jokowi di tempat tertinggi partai dalam kesatuan gerak dalam memikirkan dan memperjuangkan nasib rakyat. Tidak ada subordinasi. Dan seperti halnya tubuh, kepala bahkan tidak lebih penting dari tangan. atau kuku. Tidak ada keindahan pada organ tubuh, jika hanya ada kepala tanpa tangan dan kuku,” ujarnya.

“Bu Mega jelas ingin mengatakan bahwa akar rumput partai dan masyarakat sama pentingnya dengan dirinya dan Presiden Jokowi dalam satu kesatuan tubuh bernama Indonesia,” ujarnya. Maka, lanjutnya, bijaklah untuk memaknainya agar kepentingan yang dibungkus dengan pemalsuan makna dalam komunikasi politik tidak mendapat tempat dalam upaya memecah belah PDI Perjuangan dan Presiden Jokowi.

Haryadi menyarankan agar semua pihak meletakkan setiap kalimat pada konteksnya. “Jangan dipenggal tanpa konteks. Kecuali pemenggalan itu sengaja dilakukan untuk motif dan kepentingan politik yang nakal,” katanya.

Reporter: Willi Irawan
Editor: Chandra Hamdani Noor
HAK CIPTA © Partaipandai.id 2023

Sumber

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *