
Jakarta (Partaipandai.id) – Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Denny Sanusi mengatakan, Tahun Baru Imlek merupakan momentum untuk merayakan kegembiraan nasional.
“Imlek bukan hajatan atau ritual keagamaan tertentu. Imlek hajatan biasa, merayakan kesuksesan dan syukur, seperti perayaan tahun baru,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Tokoh masyarakat etnis Tionghoa tersebut menyatakan bahwa semangat Imlek yang sebenarnya dapat dilihat dari isinya, dimana masyarakat berkumpul dan berkumpul bersama seluruh keluarga besar setahun sekali.
“Adat silaturahmi sendiri juga diajarkan oleh semua agama, termasuk Islam,” ujarnya.
Menurutnya, semangat ini dilakukan dalam perayaan Imlek. Selain itu, pihaknya juga melakukan interaksi sosial dengan bertemu kerabat.
“Saling memberi hadiah, bagi yang mampu akan memberi kepada yang kurang mampu. Mereka yang menikah akan memberikan hadiah kepada mereka yang belum menikah. Karena yang tua akan memberikan hadiah kepada yang muda. Tradisi-tradisi ini dipandang sangat positif, yang harus dijaga dan dilestarikan,” jelasnya.
Diketahui, Imlek sendiri sempat dilarang dirayakan secara terbuka pada masa Orde Baru. Ini adalah sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Sehingga menurutnya, ditetapkannya Imlek sebagai hari libur nasional merupakan sebuah kemajuan bagi kehidupan berbagai masyarakat Indonesia.
Ia mengingatkan agar tokoh masyarakat dan tokoh agama perlu menjadi contoh yang baik bagi masyarakat di akar rumput.
“Pemuka agama, tokoh masyarakat bisa memberi contoh bahwa lintas agama, suku bisa hidup rukun,” harapnya.
Ia berharap semua pihak berkomitmen untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kesatuan, rukun, dan menuju cita-cita bangsa menjadi negara yang adil dan makmur sesuai dengan hukum.
Baca juga: MUI Sumut: Perayaan Imlek menunjukkan toleransi antar pemeluk agama
Baca juga: Melihat perayaan Imlek di Kota Seribu Kelenteng
Wartawan: Fauzi
Editor: Triono Subagyo
HAK CIPTA © Partaipandai.id 2023

