
memuat…
Dampak perang Rusia-Ukraina tidak hanya berdampak pada stabilitas politik, tetapi juga berdampak pada stabilitas pangan global. Salah satunya adalah pasokan dan harga gandum dunia. Foto/Dok
Produksi dan ekspor jagung dan gandum Ukraina menjadi perhatian luas karena merupakan bagian yang signifikan dari pasar global. Secara keseluruhan, ekspor jagung dan gandum dari Ukraina pada 2021/2022 turun 20% dari proyeksi yang dibuat sebelum konflik.
Penurunan ekspor lebih besar lagi pada tahun pemasaran 2022/2023 dan berimbas pada mahalnya harga bahan pangan sumber tanaman tersebut. Ini tentu tidak lain adalah efek dari perang antara Rusia dan Ukraina.
Berikut ini adalah tiga dampak perang Rusia-Ukraina terhadap pasokan dan harga biji-bijian dunia:
1. Harga Gandum Naik Drastis
Data dari World Resources Institute menyebutkan sejak agresi Rusia, harga gandum dan jagung dunia naik 41% dan 28%. Ini tentu saja mengacu pada Rusia, yang merupakan pengekspor utama minyak, gas alam, dan barang mineral dunia.
Dengan produksi gas alam dan kalium yang besar, Rusia adalah salah satu produsen pupuk utama dunia. Adanya perang antara Rusia dan Ukraina tentu menjadi masalah global, mengingat keduanya merupakan pemasok produk pertanian untuk kebutuhan dunia.
2. Pembatasan Ekspor Gandum
Kaitan antara perang Ukraina dan Rusia dengan ketidakstabilan pasokan makanan adalah hal yang nyata. Adanya perang yang berkecamuk membuat ekspor produk pertanian, khususnya gandum menjadi sulit.
Sulitnya mengekspor gandum ke berbagai negara memicu pembatasan ekspor pertanian di sejumlah negara. Misalnya seperti India yang memberlakukan pembatasan ekspor gandum dan gula.
3. Ketersediaan Gandum Terancam
Ketidakstabilan Ukraina membuat ketersediaan komoditas gandum terancam. Menurut Penton Media, Inc., dunia mengkonsumsi sekitar 787,4 juta metrik ton (928,9 miliar gantang) gandum setiap tahunnya.
Dengan gangguan besar dari Ukraina dan Rusia, kemungkinan besar akan terjadi kekurangan pasokan gandum dunia. Akibat dari hal ini tentu saja terjadi kelaparan di setiap negara. Bahkan, lambat laun akan berubah menjadi krisis pangan global.
Rusia kemudian mengisyaratkan bahwa jika permintaan untuk meningkatkan ekspor biji-bijian dan pupuknya tidak dipenuhi, Rusia tidak akan melanjutkan kesepakatan ekspor dari tiga pelabuhan Laut Hitam Ukraina. Sebelumnya, ancaman dan tuntutan yang sama dilontarkan pada Maret lalu.
(acr)

