
Jakarta (Partaipandai.id) – Seniman dan sastrawan Indonesia Remy Sylado telah kembali ke sisi Yang Maha Kuasa pada Senin.
“Dia telah berpulang hari ini, artis hebat Indonesia yang juga seorang budayawan, novelis, penulis film, dan bagi saya dia juga aktor hebat Indonesia, Remy Sylado,” kata Ketua Manajemen Humas Persatuan Artis Film Indonesia ( PARFI) Evry Joe dalam pesan suara yang diterima Partaipandai.id, Senin.
Baca juga: Remy Sylado Luncurkan Kamus Bahasa Manado
Joe mengingat Remy Sylado sebagai teman dekatnya. Ia mengenang Remy sebagai seniman multifaset yang piawai dalam berkreasi, mulai dari menulis lagu, menulis cerita dan novel, serta buku puisi.
“Kami dari PB PARFI pamit Bang Remy Sylado. Semoga karya-karya yang bapak tinggalkan bisa menjadi ladang amal bagi bapak di akhir hayat,” kata Joe.
“Semoga semua karya Anda menjadi pelajaran bagi kami yang ditinggalkan, terutama keluarga kami, untuk melepaskan seniman-seniman hebat kami. Karya-karya Anda akan selalu kami kenang, semoga surga menjadi tempat Anda,” tambahnya.
Remy Sylado lahir dengan nama Japi Panda Abdiel Tambajong, di Minahasa, Sulawesi Utara, 12 Juli 1945.
Dikenal dengan nama pena ini, ia pernah bekerja sebagai penulis, dosen, novelis, sastrawan, penyanyi, aktor, dan mantan jurnalis.
Karirnya membentang lebih dari lima dekade. Sebagai seorang aktor, ia muncul dalam puluhan film layar lebar dan merupakan salah satu aktor paling dihormati di generasinya.
Di dunia film, Remy sudah tiga kali masuk nominasi Festival Film Indonesia sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Film-film yang membuatnya mendapatkan nominasi adalah “Just a Moment Again” (1987), “Akibat Kanker Payudara” (1988), dan “2 of 3 Men” (1990).
Selain itu, ia juga seorang penulis aktif yang beberapa karyanya telah diadaptasi ke layar lebar. Salah satu film populer yang pernah dibuat berdasarkan tulisannya adalah “Ca-bau-kan” (2002) dari novel berjudul sama “Ca-bau-kan: Only a Sin” (1999).
Baca juga: Lelang puisi Joko Pinurbo dalam rangka Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda
Baca juga: Orasi sastra dan “Maria Zaitun” untuk mengenang Rendra
Baca juga: Ada buku musik SBY di Asean Fair
Reporter: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
Redaksi Pandai 2022

