G20, Saatnya Indonesia Menjadi Jembatan Kekuatan Tengah Antara Barat dan Timur

Jakarta (Partaipandai.id) – KTT G20 ke-17 akan diselenggarakan di Bali pada 15-16 November 2022. Mengangkat tema Sembuh Bersama, Sembuh Lebih Kuat, Indonesia menjadi Presidensi pada penyelenggaraan KTT G20 ini.

Akan banyak momen yang tercipta selama KTT G20, salah satunya adalah pertemuan pertama antara Xi Jinping dan Biden setelah Biden menjadi Presiden sejak 2021.

Meski ada beberapa hal yang kurang, karena Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengkonfirmasi ketidakhadirannya pada KTT di Bali nanti. Namun hal ini sangat wajar karena akan sangat beresiko jika seorang kepala negara meninggalkan wilayah negaranya ketika negaranya sedang dalam konflik, perang.

Kelompok negara G20 terdiri dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Prancis, Cina, Turki dan Uni Eropa. .

G20 adalah sekelompok 19 negara dan organisasi antar pemerintah dengan ekonomi terbesar di dunia. Kelompok ini mewakili setidaknya lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan global, dan 80 persen PDB dunia.

Jika mengacu pada Indonesia, pada akhir tahun 2021 saja, Bank Dunia mencatat Indonesia memiliki PDB sebesar US$ 1,186 triliun. Hal tersebut cukup baik pada level ekonomi negara-negara di dunia, terlebih saat dunia sedang dihantui oleh pandemi COVID-19. Bahkan hingga kini, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2022 berhasil menjadi nomor 2 jika dibandingkan negara anggota G20 lainnya, serta mampu mengalahkan China dan Amerika Serikat (AS), setelah tumbuh sebesar 5,72% (year-on-year/ yoi). ). Pertumbuhan tersebut menunjukkan optimisme pemerintah dan kekuatan ekonomi Indonesia, terutama jika dibandingkan dengan beberapa negara lain di dunia yang terancam resesi akibat dampak pandemi COVID-19.

Isu-isu strategis di G20 Bali

Didirikan pada tahun 1999, G20 lahir sebagai respon atas krisis ekonomi dunia pada tahun 1997-1998. Tujuannya adalah untuk memastikan dunia keluar dari krisis dan menciptakan pertumbuhan ekonomi global yang kuat dan berkelanjutan. Tujuan awal dibentuknya kelompok ini adalah untuk mempererat kerjasama yang berkaitan dengan ekonomi. Namun lambat laun karena lingkungan strategis dunia yang semakin dinamis, seolah-olah isu geopolitik juga masuk ke dalamnya, apalagi jika melihat bagaimana aspek ekonomi dapat mempengaruhi aspek lainnya, dan saling berkesinambungan dari satu aspek ke aspek lainnya.

Merujuk pada website Kemlu RI, ada tiga isu prioritas yang akan dibahas pada KTT G20 di Bali. Isu pertama adalah penguatan arsitektur kesehatan global, dimana isu ini diangkat dari optimisme Indonesia untuk mengajak negara-negara bangkit dan lepas dari ancaman Pandemi COVID-19 yang sejak tahun 2020 telah mengganggu perekonomian global.

Isu kedua adalah transformasi digital, dimana isu ini menjadi salah satu solusi untuk menggerakkan perekonomian modern saat ini, terutama saat terjadi pandemi. Dan yang terakhir adalah transisi energi, dimana isu ini menjadi optimisme dan upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim dunia. Isu terakhir diharapkan dapat mewujudkan transisi ke energi baru dan terbarukan dengan mengutamakan ketahanan, aksesibilitas, dan keterjangkauan energi.

Namun, terlepas dari isu-isu tersebut, kemungkinan KTT G20 yang akan berlangsung di Bali juga akan menyentuh isu keamanan tradisional, konflik antara Rusia dan Ukraina. Pembahasan pada KTT tersebut tentunya akan membahas kebijakan negara-negara G20 terkait acara ini. Isu tambahan ini kemungkinan akan diangkat, karena telah beberapa kali disinggung oleh beberapa anggota G20 dan sebelumnya juga telah dibahas pada pertemuan antara menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 sebelum pertemuan puncak dimulai.

Hal ini tentunya akan menjadikan Bali sebagai salah satu KTT terpanas di era modern, dan Indonesia di sini sebagai presiden memiliki peluang untuk memainkan peran strategis sebagai middle power.

Ada kelompok di dalam kelompok

Mengacu pada peta politik internasional, saat ini kelompok G20 terlihat terpecah-pecah dan memiliki kelompok di dalam kelompok. Kelompok tim Barat yang merupakan aliansi Amerika dan tim lain dengan aliansi BRICS-nya.

BRICS saat ini seolah menjadi penyeimbang kekuatan aliansi negara-negara Barat, khususnya di bidang ekonomi. Terdiri dari negara-negara Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan, mereka membentuk aliansi dimana salah satu kesepakatannya adalah sistem perdagangan antar anggotanya yang minimal menggunakan mata uang dolar AS. Hal ini tentu membuat Amerika, yang selama beberapa waktu tampak mendominasi perekonomian dunia akibat penggunaan dolar sebagai alat transaksi internasional, cukup tidak senang.

Bahkan, negara-negara anggota G20 lainnya seperti Arab Saudi dan Turki telah menunjukkan keinginannya untuk bergabung dengan BRICS. Terutama Arab Saudi, merujuk pada pernyataan Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, yang menyatakan bahwa Arab Saudi sangat ingin bergabung dengan aliansi BRICS saat mengakhiri kunjungan kenegaraannya selama dua hari ke kerajaan tersebut Oktober lalu.

Tuah Bali sebagai momentum Indonesia

Meski kepresidenan Indonesia pada KTT G20 kali ini bisa dikatakan berat, namun momen ini bisa menjadi bukti pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk menunjukkan kepada dunia peran Indonesia dalam politik internasional.

Saat ini, Indonesia bisa menjadi penyeimbang dan kekuatan penghubung antara barat dan timur. Pemerintah bisa memposisikan dirinya sebagai middle power di antara dua blok yang saat ini sedang bergolak.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah dapat membuktikan bahwa Indonesia bukanlah penonton dalam perpolitikan dunia, namun di era Presiden Joko Widodo, Indonesia mampu menjadi pemain sentral dalam menjaga keseimbangan perdamaian dunia. Hal ini juga sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia dalam pembukaan UUD 1945.

Terakhir, tentunya Bali diharapkan mampu mengembalikan keberuntungannya dimana sebelumnya sering diadakan pertemuan tingkat kepala negara dunia yang menghadirkan banyak tokoh sentral politik internasional seperti pada KTT APEC 2013.

*) Syarifurohmat Pratama Santoso adalah Perwira Angkatan Laut

Redaksi Pandai 2022

Sumber

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *