Produksi mobil di Indonesia bisa mencapai 2,4 juta unit setahun, kok hanya 1,5 juta yang terpakai?

Memuat…

Ekspor Toyota Veloz yang merupakan produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Foto: dok TMMIN

JAKARTA – Kapasitas produksi mobil di Indonesia hanya digunakan 1,5 juta unit. Padahal seharusnya bisa menembus 2,4 juta unit per tahun. Demikian disampaikan Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi. Tapi, apa alasannya?

Industri otomotif di Indonesia saat ini berusaha bangkit setelah terpukul pandemi Covid-1 9 serta krisis pasokan bahan baku dan chip semikonduktor. Untuk itu, secara perlahan jumlah produksi terus ditingkatkan untuk menarik investor menanamkan modalnya.

“Kapasitas produksi kami sekitar 2,4 juta unit per tahun. Tahun lalu terpakai hampir 1,5 juta kapasitas, karena kami masih mengimpor sekitar 70 hingga 80 ribu unit kendaraan CBU,” kata Nangoi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data yang dirilis Gaikindo, angka domestik sepanjang 2022 mencapai 1.048.040 unit, dan angka ekspor CBU sebanyak 470 ribu unit.
Melihat hal tersebut, Gaikindo yakin bisa meraih angka produksi yang lebih besar lagi.

“Jadi kita masih over kapasitas 920 ribu unit. Mudah-mudahan tahun ini lebih banyak terpakai. Sehingga nantinya efisiensi dan produktivitas bisa lebih maksimal,” ujar Nangoi.

Namun, Yohannes Nangoi juga memastikan kapasitas produksi diperoleh berdasarkan jumlah penjualan pada tahun sebelumnya. Oleh karena itu, jumlah produksi akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

“Tidak mungkin, kami tidak akan bisa membuat 2,4 juta mobil dan menjualnya, kami tidak bisa. Begitu permintaan meningkat, kami pasti akan meningkatkan kapasitas produksi. Tidak mungkin kami akan mencapai itu. Bila produksi mencapai 1,8 juta unit, tentu kapasitasnya akan kami tingkatkan lagi,” ujar Nangoi.

Untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi, Nangoi menjelaskan hal itu bisa dilakukan jika jumlah ekspor meningkat. Hal ini akan memungkinkan kapasitas produksi dapat dimanfaatkan secara maksimal atau setidaknya mendekati batas maksimum.

“Yang bisa mendorong itu, kalau kita lihat sekarang, kita sudah pakai 1.480.000 tahun yang lalu. Bayangkan jika ekspor kita dalam 2 sampai 3 tahun mencapai 1 juta, berarti kita tambah lagi 500.000 atau kurang lebih sekitar 2 juta sudah habis. . Jadi yang benar-benar bisa mendorong itu adalah ekspornya,” ujarnya.

BACA JUGA: Serius, Chery ingin menjadikan Indonesia sebagai basis produksi mobil setir kanan

Menurut Nangoi, peningkatan produksi juga merupakan sinyal positif karena akan membuat perekonomian Indonesia semakin kuat. Hal ini juga akan mendorong investor untuk berinvestasi di negara tersebut.

“Itu hal yang positif, kenapa? Karena kapasitas produksi terpakai, penyerapan tenaga kerja meningkat, devisa masuk ke kita,” ujarnya.

(dan)

Sumber

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *