
Jakarta (Partaipandai.id) – Pendekatan penggunaan media sosial media dan metode penyampaian pesan yang mengedepankan unsur visual merupakan dua strategi yang dapat diterapkan untuk menjangkau pemilih pemula pada Pemilihan Umum Serentak mendatang.
Baca juga: Analis: Usia capres jadi pertimbangan anak muda di Pilpres 2024
“Dua sisi yang harus diperhatikan adalah penggunaan media untuk menyampaikan pesan dan isi pesan itu sendiri,” kata Ketua Prodi Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Iding Rosyidin kepada Partaipandai.id, Sabtu.
Menurut Iding dari sisi menengah, salah satu cara yang paling mungkin untuk menarik suara pemilih pemula adalah menggunakan bahasa mereka dengan menggunakan media sosial.
“Beberapa survei penggunaan platform media sosial yang berusia 21 tahun ke bawah kebanyakan menggunakan YouTube, Instagram, Facebook dan Twitter. Sekarang malah mulai bergeser ke TikTok,” jelasnya.
Menyikapi hal tersebut, lanjut Iding, partai politik atau partai yang terkait dengan penyelenggaraan dan sosialisasi pemilu mendatang harus mencermati peran media sosial untuk menarik partisipasi Generasi Z (Gen Z).
Beberapa lembaga penelitian menyatakan bahwa Gen Z adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1996 hingga 2009, bahkan ada yang mencantumkannya hingga akhir 2012. Merujuk pada rentang waktu tersebut, rentang usia Gen Z saat ini adalah 11 tahun hingga 28 tahun.
Secara umum, Generasi Z, kata Iding, cenderung memilih sikap apolitis dalam artian tidak kekhawatiran dengan isu politik. Generasi ini lebih tertarik untuk berinteraksi di media sosial dengan melahap isu-isu sosial di luar politik.
“Seperti gaya hidup, pekerjaan, dan sebagainya. Jadi kalau diajak bicara yang sifatnya substantif atau serius, generasi ini cenderung tidak terlalu suka,” jelasnya.
Oleh karena itu, kata Iding yang juga Ketua Umum Himpunan Prodi Ilmu Politik Indonesia, esensi pesan yang disampaikan melalui media sosial harus dibuat semenarik mungkin melalui visual yang kaya.
“Sosialisasi Pemilu misalnya, akan lebih relevan dengan konten yang dikemas melalui visual dan musik latar yang menarik tanpa kehilangan substansi agar mereka senang,” katanya.
Lebih lanjut Iding mengamati akun media sosial Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Pusat dan Daerah telah menerapkan pola seperti itu. Ia berharap ke depannya semakin banyak pihak yang terkait dengan pesta demokrasi mendatang yang memanfaatkan peran media sosial untuk merangkul Gen Z.
“Saya melihat KPU dan Bawaslu sudah menggunakan Instagram untuk mensosialisasikan pemilu dengan menampilkan gambar beberapa halaman. Lebih menarik, apalagi ditambah background music. Ada juga model kartun animasi tentang pemilu. Isu politik dikemas dalam bentuk kartun animasi akan banyak disukai oleh generasi muda,” tutupnya.
Baca juga: KPU optimalkan media sosial menyasar pemilih Gen Z
Baca juga: Hilangkan politik identitas agar partisipasi Gen Z meningkat di pemilu 2024
Baca juga: Direktur Muda Pegadaian mengajak Gen-Z Jambi menjadi pemimpin di masa depan
Reporter: Ahmad Faishal Adnan
Editor: Ida Nurcahyani
HAK CIPTA © Partaipandai.id 2023

