Jakarta (Partaipandai.id) – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menutup tahun 2022 dengan catatan kinerja yang mendapat respon positif dari sejumlah mitra dan pemangku kepentingan terkait, meski tahun tersebut dilalui dengan sentimen negatif sehingga menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat. di lembaga penegak hukum.
Survei indeks kepercayaan masyarakat terhadap Polri pada Oktober 2022 turun menjadi 53 persen berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan 53,8 persen berdasarkan catatan Populi Center. Padahal Polri pernah mendapatkan peringkat kepercayaan publik tertinggi yakni 80,2 persen pada November 2021 melalui kebijakan “Transformasi Menuju Polri yang Tepat”.
Beberapa rapor merah yang menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri, mulai dari anggota Polresta Boyolali yang mengabaikan laporan dari anggota masyarakat yang menjadi korban kekerasan seksual pada Januari lalu, hingga penembakan terhadap Dokter Sunardi, tersangka aksi teroris di Sukoharjo, Tengah. Jawa, pada bulan Maret. Dalam kasus lain, oknum polisi terlibat dalam kasus pembunuhan berencana yang didalangi oleh Kepala Satpol PP Makassar pada April lalu.
Kemudian pada bulan Mei terjadi kasus Briptu HSB yang dikenal dengan super kaya asal Kalimantan Utara, ditetapkan sebagai tersangka kasus impor pakaian bekas dan narkoba, juga ada dua oknum polisi yang terlibat pungli tes cepat di Kabupaten Jembrana, Bali.
Puncaknya, tiga kasus yang paling banyak disorot publik adalah kasus penembakan di Duren Tiga, Jakarta, terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigdir J) yang didalangi Ferdy Sambo, mantan Kadiv Propam Polri. .
Tragedi Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang menewaskan 135 orang di Stadion Kanjuruhan, usai pertandingan Arema melawan Persebaya, 1 Oktober.
Ketiga, kasus peredaran gelap narkoba yang dilakukan oleh mantan Kapolda Sumbar Irjen Pol. Teddy Minahasa dan lima polisi lainnya.
Atas segala ketidaksempurnaan kinerja aparat kepolisian dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai penegak hukum, mengayomi, melayani dan mengayomi masyarakat, maka Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo meminta maaf kepada masyarakat Indonesia.
“Kami menyadari masih banyak kekurangan yang harus kami perbaiki, saya selaku Kapolri menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia atas kinerja atau tingkah laku dan perkataan, atas pelayanan, atas tingkah laku anggota kami yang mungkin tidak tepat di masyarakat,” kata Sigit dalam rilis akhir tahun di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (31/12).
rekor kinerja 2022
Meski mendapat banyak rapor merah, Polri melakukan berbagai upaya peningkatan kinerja untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik melalui program Precision quick wins.
Dalam survei akhir tahun 2022, tingkat kepercayaan publik secara bertahap naik menjadi 62,4 persen berdasarkan catatan Charta Politika.
Beberapa catatan positif masyarakat terkait kinerja Polri turut meningkatkan kepercayaan masyarakat, seperti pengamanan mudik lancar dan kondusif Idul Fitri, penyelesaian kasus Ferdy Sambo, pengamanan KTT G20 di Bali, serta pengamanan Natal 2022 dan Tahun Baru 2023.
Polri mencatat stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di tingkat nasional sepanjang tahun 2022 dalam situasi yang kondusif. Namun dalam penegakan hukum, terjadi peningkatan kasus kriminalitas seiring dengan berkurangnya aktivitas masyarakat.
Polri mencatat 276.507 kasus sepanjang 2022, meningkat 18.764 kasus atau 7,3 persen dibanding 2021 yang mencatat 257.743 kasus.
Sementara itu, penyelesaian kasus yang dilakukan Polri justru mengalami penurunan yakni pada tahun 2022 sebanyak 200.147 kasus, sedangkan tahun 2021 sebanyak 202.024 kasus. Menurun sebanyak 1.877 kasus atau 0,9 persen.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol. Dedi Prasetyo, saat dikonfirmasi awal Januari 2023 terkait alasan penurunan penyelesaian perkara selama 2022, belum memberikan jawaban.
Hingga saat ini, dirinya masih menunggu penjelasan dari Bareskrim Polri terkait catatan tersebut, termasuk data 1.226 personel Polri yang meninggal dunia sepanjang 2022. Belum diketahui detailnya, apakah meninggal dalam tugas, karena sakit, atau karena kasus lain.
Sepanjang tahun 2022 Polri mencatatkan kinerja yang dapat dipertanggungjawabkan seperti penyelesaian perkara melalui restorative justice sebanyak 15.809 kasus, meningkat 11,8 persen dibanding tahun 2021 (14.137 kasus).
Penanganan kejahatan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2022 sebanyak 25.321 kasus, turun 7,5 persen dari tahun sebelumnya (27.380 kasus). Penyelesaian kasus justru meningkat 1,4 persen atau 16.892 kasus selesai.
Performa yang paling digenjot di tahun 2022 adalah pemberantasan judi baik konvensional maupun online. Ada 2.651 kasus perjudian konvensional yang ditangani atau meningkat 46,5 persen dari tahun sebelumnya. Penyelesaian juga meningkat 23,2 persen atau sebanyak 2.378 kasus.
Untuk judi online meningkat dari 614 kasus di tahun 2021 menjadi 1.323 kasus di tahun 2022. Penyelesaian kasus juga meningkat, dari 579 kasus di tahun 2021 menjadi 1.154 kasus di tahun 2022.
Begitu juga dengan kasus narkoba, Polri mencatat 39.709 kasus sepanjang 2022. Angka ini turun dibanding 2021 sebanyak 40.320 kasus. Demikian juga dengan penyelesaian kasus narkoba mengalami penurunan sebesar 11,5 persen. Selain itu, Polri sedang melacak aset pelaku narkotika senilai Rp 131,1 miliar.
Kasus yang menonjol di tahun 2022 adalah 28 kejahatan investasi dengan total kerugian Rp 31,4 triliun. Beberapa kejahatan investasi terkemuka, seperti Binomo, Quotex, DNA Pro dan PT FSP Akademi Pro atau Fahrenheit.
Sedangkan penanganan terorisme sepanjang tahun 2022 mengalami penurunan sebanyak lima kasus atau 83 persen dibanding tahun 2021 (dari enam tindakan menjadi satu tindakan di Polres Astanaanyar).
Jumlah pelaku teror yang terungkap menurun sebanyak 123 orang atau 33,2 persen, dari 370 (tahun 2021) menjadi 247 orang (tahun 2022). Kemudian, dari 247 tersangka yang sudah teridentifikasi, saat ini 169 orang dalam proses penyidikan, 56 orang P-21, 17 orang menjalani persidangan, empat orang meninggal dalam proses penuntutan, dan satu orang meninggal akibat bom bunuh diri.
Para tersangka terdiri dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI) 97 orang, kelompok Anshor Daulah (AD) 70 orang, kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) 46 orang, kelompok Negara Islam Indonesia (NII) 28 orang, empat orang. orang dari grup MIT Poso, satu orang dari serigala sendirian dan satu orang FTF.
Kinerja dalam menjaga keamanan di Papua, sepanjang tahun 2022 telah terjadi 90 aksi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di 14 kabupaten/kota di Papua yang mengakibatkan 48 orang meninggal dunia (35 orang diduga KKB, 10 orang TNI dan 3 orang anggota Polri) , dan 27 orang luka-luka.
Polri juga terlibat dalam penanganan 3.445 bencana alam yang akan terjadi sepanjang tahun 2022, antara lain gempa Cianjur, Jawa Barat, dan erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, dan sekitarnya.
Humas Polri
Banyak prestasi yang telah ditorehkan Polri di tengah ujian berat yang akan menerpa sepanjang tahun 2022. Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Irjen Pol. (Purn) Benny Mamoto dan Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Hermawan Sulistyo memberikan catatan positif atas kinerja Polri.
“Kalau tahun 2022 tidak ada tiga kejadian, maka laporan Kapolri akan sempurna. Soalnya, prestasi ini terlalu bagus, jadi ‘ketuk’ Tuhan, jangan sombong. Tuhan ketuk Anda jangan sombong, bukan Kapolri, jajarannya, Kapolri tidak pernah bicara, diam saja. Yang lain itu. Kenapa? Saya lihat tidak ada yang naik, semua orang bilang polisi terlalu kuat, terlalu kuat, siapa yang bilang begitu?” kata Herman.
Benny Mamoto menilai, Kapolri telah menjelaskan akuntabilitas kinerja secara transparan, akuntabel, dan komprehensif. Berdasarkan hasil turun ke lapangan, Kompolnas menemukan banyak inovasi yang dilakukan Polri di daerah, seperti di masa Covid-19, Polri turut memberdayakan ekonomi masyarakat.
Catatan kritis disampaikan pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto, yang menyatakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan Polri.
Bambang mengatakan, pekerjaan rumah yang paling penting harus segera diselesaikan, mulai dari kasus Ferdy Sambo, kasus penghalangan proses peradilan, kasus konsorsium 303, Kanjuruhan, dan kasus penambangan liar Ismail Bolong.
Tanpa penyelesaian kasus-kasus tersebut secara transparan, mungkin akan sulit mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada Polri seperti sebelum kasus-kasus tersebut muncul.
Apalagi, tahun 2023 tantangan semakin berat, menjelang tahun politik Februari 2024. Sebab, paruh kedua tahun ini sudah mulai berkampanye. Oleh karena itu, dalam waktu maksimal setengah semester, Polri bisa menuntaskan kasus-kasus tersebut sehingga bisa fokus mengamankan Pemilu 2024 dan mengembalikan kepercayaan publik.
Netralitas polisi menjadi tantangan paling serius, karena terkait kasus Ferdy Sambo banyak sekali isu terkait Satgas Merah Putih yang juga disebut-sebut berperan dalam pemilu 2019. Jadi kalau PR ini tidak selesai dan tidak jelas, tahun 2024 tantangannya adalah netralitas polisi.
Tanpa kepercayaan publik, akan sulit pada pemilu mendatang, karena polisi akan dianggap tidak netral.
Editor: Masukkan M. Astro
HAK CIPTA © Partaipandai.id 2023

